Jumat, 01 April 2011

Arti Sebuah Pilihan


Seorang pemuda mendatangi gurunya dan berkata: “Wahai Guruku, jelaskanlah tentang arti sebuah pilihan!”
Sang guru yang bijak itu menjawab: “Masuklah ke dalam hutan. Carilah sekuntum bunga anggrek hutan yang paling indah, unik, dan paling harum, lalu bawalah kemari.

Dan, Ingat!!! ada satu aturan yang harus kau patuhi. Engkau boleh berjalan sejauh-jauhnya, tapi jangan berbalik ke tempat yang telah terlewati. Bunga yang telah kau lewati, tidak boleh kau ambil lagi.
Jelas?”

“Jelas Guru” Si pemuda menjawab tegas, meskipun ia heran dengan permintaan Sang guru.

Mulailah Si pemuda memasuki hutan. Sebenarnya mudah saja ia menemukan anggrek hutan, tapi ia ragu, apakah ia bisa mendapatkan anggrek hutan seperti yang disyaratkan gurunya. Indah, unik, dan harum.

Belum begitu jauh dari mulut hutan, Si pemuda sudah mendapatkan sederet anggrek liar di bahu jalan hutan itu. Disibakkan semak-semaknya, lalu diamatinya anggrek-anggrek itu dengan seksama. Satu di antara anggrek ini pasti yang paling indah. Begitu ia akan memetik salah satunya, sebuah pikiran logis mengganggu. “Ini kan baru mulut hutan, makin ke dalam tentu anggrek-anggreknya akan semakin indah, apalagi jika aku menemukan di jantung hutan ini, yah… aku harus berjalan lagi” begitu ia bergumam.

Lalu Si pemuda pun melanjutkan perjalanan. Ternyata benar, makin jauh ke dalam hutan, makin banyak ia menemukan deretan bunga anggrek hutan yang sedang mekar, “mungkin sedang musim anggrek” lirihnya. Si pemuda sangat senang, dilihatnya satu-persatu bunga-bunga anggrek itu sambil diciumi aromanya, harumkah ia? Bukankah anggrek sangat sulit mengeluarkan bau harum? Tapi ia harus tetap mencari yang harum. Cerah sekali raut wajah Si pemuda karena senang, ia terus saja berjalan, sesekali singgah mengamati anggrek yang ditemuinya, “Semua indah” katanya bingung.

Telah jauh Si pemuda meninggalkan deretang anggrek-anggrek itu. Matanya mulai nanar, ia tak menemukan anggrek lagi di jalan-jalan yang dilaluinya kemudian, ia mulai takut, tak ada lagi deretan bunga anggrek di depannya. Ia sangat sedih, ia merasa tidak berhasil menjalankan tugas ‘sepele’ itu dari gurunya. Ia menyesal, mengapa tak memilih salah satu anggrek yang dilihat tadi, padahal di depan sana ia belum tahu, apakah masih ada bunga anggrek atau tak ada lagi yang tersisa.

Langkah gontainya menabrak serumpun anggrek hutan. “Alhamdulillah…” ikhlas ia mengucap syukur. Di depan ternyata masih banyak deretan anggrek. Kali ini ia tak mau melewatkannya lagi. “Aku harus mengambil sekarang, aku takut di depan tak ada anggrek lagi” mantap ia memutuskan. Maka ia memilih satu anggrek yang menurutnya paling indah, unik, dan paling harum. “Semoga aku tidak salah” ragu-ragu ia mengucap do’a, karena di tempat yang tadi ia lalui, ada bunga anggrek yang ‘sepertinya’ lebih indah. “Ah.. mungkin itu pikiranku saja” katanya menghibur hati.

Kini anggrek itu sudah berada di genggamannya, diamati lekat-lekat, lalu ia kembali meneruskan perjalanan. Hutan itu cukup luas, tentu di depan masih banyak bunga anggrek hutan yang lain. Kali ini ia hanya bisa melihat dan tak mau mendekat. Ia tak ingin mengacaukan pikirannya sendiri. Mendekati bunga-bunga itu adalah jalan untuk membandingkan bunga-bunga itu dengan yang ia pegang sekarang. Keteguhannya pada perintah Sang guru, membuat ia tak berniat untuk berkhianat, pada aturan yang telah disepakati sejak awal. Terlebih ia ingin mengerti dengan benar, tentang arti sebuah pilihan. Ia pun bergegas keluar dari hutan dan segera menemui Sang guru.

Kini, bunga anggrek itu sudah di tangan Sang guru. Sang guru tersenyum, lalu berkata: “Mengapa kamu ambil bunga yang ini, padahal masih banyak bunga anggrek yang lebih indah daripada yang kamu ambil ini.

Tapi baiklah, inilah pilihanmu dan aku menghargainya. Kau telah melewati tantangan itu. Sekarang pikirkanlah, apakah arti pilihan itu menurutmu?”

Si pemuda terlihat mengangguk-anggukkan kepala “Iya Guru, sekarang saya paham maksud Guru, Terima kasih, telah mengajarkanku arti sebuah pilihan, hingga aku akan menghargainya, seperti aku menghargai bunga anggrek ini, yang telah aku cari dan kudapatkan bersama berlalunya waktuku.”

sumber : http://blog.selayaronline.com

Filosofi Nasi Tumpeng

Tumpeng merupakan sajian nasi kerucut dengan aneka lauk pauk yang ditempatkan dalam tampah (nampan besar, bulat, dari anyaman bambu). Tumpeng merupakan tradisi sajian yang digunakan dalam upacara, baik yang sifatnya kesedihan maupun gembira.
Tumpeng dalam ritual Jawa jenisnya ada bermacam-macam, antara lain : tumpeng sangga langit, Arga Dumilah, Tumpeng Megono dan Tumpeng Robyong. Tumpeng sarat dengan symbol mengenai ajaran makna hidup. Tumpeng robyong disering dipakai sebagai sarana upacara Slametan (Tasyakuran). Tumpeng Robyong merupakan symbol keselamatan, kesuburan dan kesejahteraan. Tumpeng yang menyerupai Gunung menggambarkan kemakmuran sejati. Air yang mengalir dari gunung akan menghidupi tumbuh-tumbuhan. Tumbuhan yang dibentuk ribyong disebut semi atau semen, yang berarti hidup dan tumbuh berkembang.
 
Pada jaman dahulu, tumpeng selalu disajikan dari nasi putih. Nasi putih dan lauk-pauk dalam tumpeng juga mempunyai arti simbolik, yaitu:

Nasi putih

Berbentuk gunungan atau kerucut yang melambangkan tangan merapat menyembah kepada Tuhan. Juga, nasi putih melambangkan segala sesuatu yang kita makan, menjadi darah dan daging haruslah dipilih dari sumber yang bersih atau halal.

Bentuk gunungan ini juga bisa diartikan sebagai harapan agar kesejahteraan hidup kita pun semakin “naik” dan “tinggi”.


Ayam: ayam jago (jantan)

Dimasak utuh dengan bumbu kuning/kunir dan diberi areh (kaldu santan yang kental), merupakan simbol menyembah Tuhan dengan khusuk (manekung) dengan hati yang tenang (wening). Ketenangan hati dicapai dengan mengendalikan diri dan sabar (nge”reh” rasa).

Menyembelih ayam jago juga mempunyai makna menghindari sifat-sifat buruk yang dilambangkan oleh ayam jago, antara lain: sombong, congkak, kalau berbicara selalu menyela dan merasa tahu/menang/benar sendiri (berkokok), tidak setia dan tidak perhatian kepada anak istri.


Ikan Lele

Dahulu lauk ikan yang digunakan adalah ikan lele bukan bandeng atau gurami atau lainnya. Ikan lele tahan hidup di air yang tidak mengalir dan di dasar sungai. Hal tersebut merupakan simbol ketabahan, keuletan dalam hidup dan sanggup hidup dalam situasi ekonomi yang paling bawah sekalipun.



Ikan Teri / Gereh Pethek

Ikan teri/gereh pethek dapat digoreng dengan tepung atau tanpa tepung. Ikan Teri dan Ikan Pethek hidup di laut dan selalu bergerombol yang menyimbolkan kebersamaan dan kerukunan.


Telur

Telur direbus pindang, bukan didadar atau mata sapi, dan disajikan utuh dengan kulitnya, jadi tidak dipotong, sehingga untuk memakannya harus dikupas terlebih dahulu.

Hal tersebut melambangkan bahwa semua tindakan kita harus direncanakan (dikupas), dikerjakan sesuai rencana dan dievaluasi hasilnya demi kesempurnaan.

Piwulang jawa mengajarkan “Tata, Titi, Titis dan Tatas”, yang berarti etos kerja yang baik adalah kerja yang terencana, teliti, tepat perhitungan,dan diselesaikan dengan tuntas.

Telur juga melambangkan manusia diciptakan Tuhan dengan derajat (fitrah) yang sama, yang membedakan hanyalah ketakwaan dan tingkah lakunya.


Sayuran dan Urab-uraban


Sayuran yang digunakan antara lain kangkung, bayam, kacang panjang, taoge, kluwih dengan bumbu sambal parutan kelapa atau urap. Sayuran-sayuran tersebut juga mengandung simbol-simbol antara lain:
  1. Kangkung berarti jinangkung yang berarti melindung, tercapai.
  2. Bayam (bayem) berarti ayem tentrem,
  3. Taoge/cambah yang berarti tumbuh,
  4. Kacang panjang berarti pemikiran yang jauh ke depan/inovatif,
  5. Brambang (bawang merah) yang melambangkan mempertimbangkan segala sesuatu dengan matang baik buruknya,
  6. Cabe merah diujung tumpeng merupakan symbol dilah/api yang meberikan penerangan/tauladan yang bermanfaat bagi orang lain.
  7. Kluwih berarti linuwih atau mempunyai kelebihan dibanding lainnya.
  8. Bumbu urap berarti urip/hidup atau mampu menghidupi (menafkahi) keluarga.

Pada jaman dahulu, sesepuh yang memimpin doa selamatan biasanya akan menguraikan terlebih dahulu makna yang terkandung dalam sajian tumpeng. Dengan demikian para hadirin yang datang tahu akan makna tumpeng dan memperoleh wedaran yang berupa ajaran hidup serta nasehat.

Dalam selamatan, nasi tumpeng kemudian dipotong dan diserahkan untuk orang tua atau yang “dituakan” sebagai penghormatan.

Setelah itu, nasi tumpeng disantap bersama-sama. Upacara potong tumpeng ini melambangkan rasa syukur kepada Tuhan dan sekaligus ungkapan atau ajaran hidup mengenai kebersamaan dan kerukunan.

Ada sesanti jawi yang tidak asing bagi kita yaitu: "Mangan ora mangan waton kumpul (makan tidak makan yang penting kumpul)." Hal ini tidak berarti meski serba kekurangan yang penting tetap berkumpul dengan sanak saudara.

Pengertian sesanti tersebut yang seharusnya adalah mengutamakan semangat kebersamaan dalam rumah tangga, perlindungan orang tua terhadap anak-anaknya, dan kecintaan kepada keluarga.
Di mana pun orang berada, meski harus merantau, harus lah tetap mengingat kepada keluarganya dan menjaga tali silaturahmi dengan sanak saudaranya.

Sumber : http://apakabardunia.com yang disadur dari http://haxims.blogspot.com